Cerita Lama :)


Snowdrop

 Malam ini seperti malam sebelumnya. Aku sendirian di sini bersama temanku Jack Heffley… maaf! Aku lupa mengenalkan diriku! Namaku Normayanti Afifah, aku seorang mahasiswi berumur 22 tahun, mahasiswi biasa dari Indonesia 10 tahun yang lalu. Aku mempunyai seorang kekasih yang tak bisa disebut kekasih lagi bagiku, namanya Reyhan. Dia memang kekasihku, namun sudah 3 minggu terakhir ini dia sudah tidak kembali ke rumah.
 Kami memang tinggal serumah, tepatnya, aku yang tinggal di rumahnya. London, di Inggris. Kau tahu kenapa aku berkata ‘seperti malam sebelumnya, aku sendirian bersama temanku’? Itu karena, kini aku tinggal di apartemen yang cukup mewah milik temanku. Bukan tinggal, tapi menginap untuk waktu lama….
 Semenjak kekasihku pergi dan tak menampakkan wajahnya lagi, aku menceritakan semua itu pada Jack, temanku sejak kecil di London. Jack bilang kalau sebaiknya aku tidak menunggunya. Saat kutanyakan alasannya, dia bilang kalau Reyhan akan kembali, tapi akan sangat lama.
 Tapi kadang aku merasa bingung, karena tampaknya ada yang aneh dengan peristiwa ini. Aku melihat suatu kejanggalan yang ada pada diri Jack, tapi aku tak tahu. Setelah aku menyadari kejanggalannya, aku menanyakannya pada Jack.
 “Jack, di mana Claire?” tanyaku. Jack yang sedang memegang gelas terdiam, tak lama setelahnya gelas itu meluncur ke lantai karena tertarik gaya gravitasi.
 “Jack? Kau tak apa-apa?” tanyaku agak panik.
 “T-tidak, Yan. Aku tidak apa-apa, tapi tolong jangan bertanya apa pun mengenai Claire…” katanya dengan wajah pucat.
 “B-baiklah, kalau itu bisa membuatmu lebih baik. Sekarang istirahatlah di kamar, biar aku yang membereskan ini…” kataku disertai senyum, Jack balas tersenyum lemah. Dia melangkah gontai ke kamarnya.
 “Sebenarnya ada apa di sini…?” gumamku, semuanya terasa aneh. Reyhan yang dulu memperhatikanku, sekarang meninggalkanku. Jack yang dulu antusias kalau membicarakan Claire , sekarang meminta aku berhenti membicarakan hal itu. Ada apa sebenarnya? Mengapa mereka tak mau berterus terang padaku?
 “Sungguh…Ya tuhan… sebenarnya ada apa? kenapa..? KENAPA MEREKA SEMUA MENYIMPAN SEMUANYA DARIKU!” jeritku dengan suara serak.
 Sakit…
 Hatiku sakit karena perbuatanmu, Tuhan…. Reyhan, sekarang kau berada di mana? Setiap hari, aku berharap supaya dapat menemuimu. Berjumpa lagi denganmu, menatap matamu lagi, mendapatkan kasih sayang. Kini aku kosong, aku sedih, sakit dan kecewa karenamu Reyhan. Seakan keputus asaanku mencekikku hingga aku tak bisa bernafas lagi.
 Suara batuk terdengar, aku bergegas menuju kamar Jack sambil menghapus air mataku. Kulihat, Jack bangkit dari tempat tidurnya dan terbatuk keras. Aku berusaha meredakkannya dengan menepuk punggungnya pelan. Ia menutup mulutnya, seperti ingin memuntahkan sesuatu.
 “Ada apa Jack? Kau kenapa?” Tanyaku panik.
 “A-aku tidak-COUGH!” suara batuk terdengar lagi. Kini, cairan yang tertampung di tangan Jack mulai melumer ke selimut putihnya. Mataku terbelalak, Jack menumpahkan cairan yang ada di tangan ke lantai. Mulutnya bernoda darah.
 “J-jack… sejak kapan kau batuk darah…?” oh tuhan! Mengapa kau begitu kejam!
 “A-aku…”
 London Park
 “Reyhan?”
 “Ah, maaf..”
 “Kau melamun dari tadi,”
 “Maaf, Claire. Aku mengkhawatirkan keadaan Yanti..”
 “Hhh…” Claire menghela nafas.
 “Bisakah kau tidak memikirkan Yanti? Aku jengkel sekali kalau kau menyebut atau memikirkannya..” keluh Claire.
 “Tapi… aku merasakan ikatan batin yang kuat antara aku dan dia. Walau mau bagaimana pun kuputus, ikatan itu akan tetap menyatukanku dengan Yanti…”
 “Cukup! Hentikan ocehanmu tentang ikatan itu. Telingaku sakit setiap kali kau sodori dengan perkataanmu itu,”
 Reyhan pun akhirnya hanya bisa menuruti apa kata Claire, ia terdiam dengan pikiran galau dan labil tentang Yanti. Bagaimana kalau Yanti kenapa-napa? Handphone-nya disekap oleh Claire sehingga ia tak bisa berhubungan dengan Yanti. Bahkan semua yang menyangkut hubungannya dengan Yanti dilepas dan disekap, termasuk kalung dari Yanti. Reyhan pun bingung, bagaimana bisa Claire tidak khawatir dengan Jack? Memang dari awal ini aneh dan membingungkan.
 “Yanti…
XXXXXXXX
 Tiba-tiba Yanti merasa dadanya menegang, ia merasa kalau Reyhan baru saja mengatakan sesuatu yang penting.
 “Kau kenapa Yanti?” Tanya Jack.
 “Tak apa-apa, aku ingin Tanya sekali lagi. Darimana kau mendapat penyakit itu? Dari mana kau mendapatkan luka-luka di tubuhmu? Siapa yang membuat tubuhmu makin kurus? Apa yang kau sembunyikan padaku, Jack?” pertanyaan beruntun dari Yanti membuat Jack membisu.
“Aku tak tahu aku mendapat luka itu dari mana. Aku yang luka-luka ini sendiri. Aku tidak makan dan aku tak menyembunyikan apa pun,” jawab Jack.
 “Sejak kapan kau mengidap masokis?” Tanya Yanti bingung.
 “Entahlah..”
 “Sebaiknya kau istirahat dulu, itu akan membuatmu lebih baik..” Jack tersenyum.
 3 hari kemudian….
 Aku lupa mengatakan sesuatu pada Jack. Sesuatu yang sangat penting bagi kesehatannya, bahkan mungkin hidupnya. Aku segera berlari ke arah apartemen Jack. Kulihat langit sedang mendung, seakan langit mengerti perasaanku. Gerimis mulai turun bagai menghantam tanah yang mulai lunak, aku tersenyum perih.
 Sesampainya di sana, kulihat Jack memuntahkan darah lagi. Kali ini dia memuntahkannya dari jendela.
 “Jack! Kau tak apa-apa?!” aku melempar barang belanjaanku ke sembarang tempat, Jack tampak kesulitan bernafas. Ia mencengkram dadanya sambil membungkuk, aku mendatanginya dan mencoba menenangkannya. Setelah keadaan Jack cukup stabil, aku menyampaikan apa yang ingin kusampaikan.
 “Jack.. aku baru ingat jika… orang yang batuk darah biasanya..”
 “Umur orang yang batuk darah tersebut tak lama lagi akan mati…” Jack memotong perkataanku, dia tersenyum.
 “Aku sudah tahu, Yan… kau tak perlu khawatir. Aku sudah siap untuk mati kapanpun,” katanya.
“Karena aku takkan pernah tahu, kapan tepatnya hari dan waktu pencabutan nyawaku tiba nantinya…” sambungnya. Melihat sikap Jack yang amat pasrah, aku ingin sekali menegurnya.
 “Aku tahu apa yang ingin kau katakan..” aku terkejut.
 “Aku percaya kalau Tuhan akan memberikan sesuatu yang terbaik pada umat-Nya yang tabah. Walau menurut kita itu tak adil, tapi pasti ada alasan tertentu hingga kita mengalaminya..” aku terdiam mendengarnya.
 Harvenheit Mansion
 Terlihat seorang gadis berambut blonde sedang mondar-mandir sambil menggenggam Handphone, ia menatap kesal layar Handphonenya.
 “Sial! Di mana si anjing kampung bodoh itu? Di saat yang penting malah tidak mau mengangkat telepon! Dasar idiot!” berbagai kata hinaan terlintar dari mulutnya. Setelah menunggu lama, akhirnya orang yang dihubunginya pun mengangkat panggilannya.
 ‘H-halo…. Ada apa, Claire?’ jawaban itu agak terbata dan suaranya serak rapuh.
 Tatapan mata Claire menjadi khawatir, namun kembali berubah seperti biasa.
 “Kenapa kau tidak mengangkat panggilanku? Dan jangan panggil aku ‘Claire’! kau sudah tak ada hubungannya denganku!”
 ‘Ma-maaf, tadi aku masih-‘
 “Jangan alasan kau, dasar tidak berguna!” kesabaran jack mulai menipis.
 ‘Apa maksudmu? Selama ini aku sudah menuruti keinginanmu bagaikan budak yang selalu patuh pada Tuannya! Tapi kau begitu laknat, Harvenheit! Nona Bangsawan yang semena-mena!’ Jack menjerit dengan suara serak.
 Bermaksud mempermainkan Jack, Claire membalas.
 “Bukankah kau memang seorang budak? Siapa yang bilang kau kekasihku? Dari awal supaya lebih dekat dengan Reyhan, Heffley!” Claire menjawab dengan sangat enteng tanpa mempedulikan perasaan Jack.
 ‘Ha-harvenheit..? Benarkah itu, brengsek? A-uhuk!’
 “Eh?” Claire menatap layar Handphone-nya.
 Tiba-tiba suara ribut datang dari handphonenya, Claire mendengarkannya baik-baik. Ingin mengetahui apa yang terjadi pada budaknya, muncul satu suara.
‘Kau baik-baik saja, Jack? Sudah kubilang, kau tak perlu berbicara apalagi menjerit! Itu akan membuat keadaanmu semakin mengkhawatirkan!’ Claire tersentak mendengar suara yang taka sing baginya.
 /Itu…Yanti. Kenapa dia bisa ada di apartemen yang aku berikan untuk si anjing itu?/ batin Claire, satu suara muncul menyahuti suara Yanti.
 ‘Aku tidak apa-apa, Yan…. Buktinya aku bisa bertahan 3 hari-Uhuk!’ suara itu tampak begitu dalam kerapuhan. Claire memejamkan matanya.
XXXXXXXXX
 Aku menatap Handphone Jack yang terlempar ke tempat tidur, aku berjalan ke sana. Kutatap layar Handphone yang mengatakan bahwa Claire Harvenheit sedang meneleponnya. Segera kuambil dan kubalik handphone Jack, kulepas badan penutup belakang dan kucabut baterainya. Semakin lama hal ini semakin membingungkan dan rumit, kepalaku serasa mau meledak karena beratnya permasalahan yang kupikirkan. Setiap detik serasa datang menghujam, menyayat hati, menggores jiwa yang mengemis kebebasan.
 Aku sudah tidak tahan lagi. Sungguh, bernafas bukan seperti mengambil oksigen lagi. Seakan setiap tarikan nafas semakin mencekik leherku, menenggelamkanku di samudra biru yang luas dan dalam. Aku ingin mengakhiri hidupku yang rumit, sungguh ingin. Tuhan, kabulkan permintaanku yang satu ini. kumohon…
 Keesokan harinya, aku mempersiapkan segalanya dengan baik. Sungguh sempurna rencana kali ini. Di pagi hari, aku masuk ke sebuah ruangan. Di sana sudah tergantung tali dan kursi tepat di bawah tali itu. Aku segera naik ke atas kursi, memasukkan kepalaku di ikatan tali. Aku bersiap menendang kursi itu, tapi sayangnya hal itu mungkin tak dikabulkan karena….
 “Yanti! Apa yang kau lakukan?!” jack bertanya dengan nada marah yang terlihat jelas dari raut wajahnya.
 “Jack..aku..aku sudah tidak kuat lagi, Jack! Setiap tarikan nafas serasa mencekik leher! Aku tidak tahan lagi! Hidup ini menyakitkan!” aku menjerit keras.
 “Permasalahanku tidak enteng, Jack! Permasalahan ini begitu rumit dan membingungkan! Kau tahu bagaimana rasanya dittinggal kekasih? Memang kau pernah merasakannya? Aku yakin tidak pernah! Apa kau bisa membayangkan jika kau ditinggalkan Claire?” aku menjerit dengan keras tanpa mempedulikan Jack yang tercekat saat ini.
 “Ya! Aku tahu Yanti! Bahkan sebelum kau ditinggalkan oleh Reyhan! Sejak awal aku selalu dibuang! Aku hanyalah budaknya! Kau tidak tahu bagaimana perasaanku, Yanti! Kau terlalu larut dalam masalahmu hingga mengadili orang sekehendakmu! Bukan kau yang berhak menentukan ini!” aku terdiam mendengarnya, memang benar apa yang Jack katakan.
 “Maaf, Yan…. Bisakah kau turun?” aku memandang wajah sahabatku, ia menatapku dengan tatapan yang perih.
 “Baiklah..” perlahan, aku mengeluarkan kepalaku dari simpul tali. Lalu aku turun melompat dari kursi, Jack tersenyum. Jack membereskan segala perlengkapan bunuh diriku, sedangkan aku hanya bisa meringkuk di sudut kamar.
XXXXXXXX
 Sore harinya, seperti biasa, aku melintas keluar entah ingin apa. aku melintas di sebuah café, di sampingku juga ada pasangan yang baru saja lewat. Aku sempat terdiam, aku mengenal siapa yang lewat itu. Aku mencegatnya.
 “Re-reyhan..?”
 “Y-Yanti?” ia tampak kebingungan, aku menoleh menatap siapa orang yang berjalan bersama Reyhan sambil merangkul tangannya.
 “Claire?”
 “Ya, ada apa Afifah?”
 “Kenapa kau bisa bersama Reyhan?” aku menautkan alisku, Claire menatapku sinis. Ada apa sebenarnya ini?
 “Memang kenapa? Ada masalah? Kau sendiri di apartemen si anjing kampung itu kan?” aku menatapnya dengki.
 “Tidak, aneh sekali jika kau bersama Reyhan, kurasa kalian tak begitu dekat. Lagipula, seharusnya Reyhan bersamaku saat ini. Ya, aku di apartemen Jack. Memang kenapa, Claire?” Reyhan hanya menatap tanah dengan agak, gugup?
 “Jadi, kau ke mana saja 3 minggu ini, Reyhan?” aku bertanya  dengan  nada sinis. Padahal sebenarnya aku sangat terluka mengetahui Claire bersama Reyhan.
 “A-aku…” Reyhan tak bisa berkata-kata.
 “Reyhan…katakan yang sebenarnya. Kumohon…” aku menunduk sambil mengatupkan tanganku, Reyhan menatapku lembut. Aku tahu, masih ada cinta dan harapan yang tersimpan untukku, aku tahu itu.
 “Aku dan Reyhan adalah sepasang kekasih…” Claire, Claire Harvenheit. Gadis itu menjawab dengan mantap. Aku mendongak, melihat wajahnya yang tersenyum sinis dan mengejek.
 “Se-sejak kapan, Reyhan?” aku berpaling dan bertanya pada Reyhan. Aku menatap matanya dalam, ada kegelisahan di sana.
 “A-aku tidak-“
 “Sudah 3 minggu lalu kami menjadi sepasang kekasih,” aku langsung menyalak.
 “Aku tidak bertanya padamu, Claire! Aku butuh jawaban dari Reyhan! Bukan dari mulut busukmu itu, brengsek!”
 “Ternyata tinggal lama dengan si anjing itu ada buruknya bagimu, ya. Afifah,”
 “Berhenti menghina Jack! Ia juga manusia, Claire! Kau pikir Jack tidak punya perasaan? Dia juga menunggumu setiap saat, bodoh!” Claire tertegun sejenak.
 “Katakan Reyhan! Kumohon..!” aku menatap Reyhan sambil menahan tangis, Reyhan menatapku pedih. Claire sudah diam bagaikan patung, ia bahkan tak bereaksi apa-apa.
 “Yanti..” tangan Reyhan terulur padaku, tapi aku menepisnya.
 “Diam…Diam…Kumohon..Akh! diamlah!” aku seperti orang gila, memori masa laluku berputar begitu cepat dalam otakku.
 “Reyhan! Reyhan! Kau di mana?!” aku menjerit brutal dengan keras tanpa sadar.
 “Yanti! Kau kenapa? Yanti!” kesadaranku kembali muncul saat aku mendengar Reyhan mulai berteriak untuk menyadarkanku. Tapi, entah kenapa kakiku bergerak sendiri untuk berlari lurus ke depan, berlari kencang.
 “Yanti! Jangan! Di sana ada kereta api!” Reyhan berteriak-teriak seraya mengejarku, aku terus berlari tanpa mempedulikan teriakannya.
 Terlambat, pagar pembatas telah ditutup. Aku telah masuk, aku hanya bisa menatap kosong pada kereta api yang kini melaju ke arahku. Aku memejamkan mataku, aku akan menghapus keberadaanku.
XXXXXXXXX
 Claire menatap jalan ke arah apartemen Jack, ia menyadari sesuatu. Sesegera mungkin, ia mengejar Reyhan dan berdiri di samping pagar pembatas.
XXXXXXXXX
 Yanti memejamkan matanya, keputusannya sudah bulat. Ia menutup kisahnya, menghapusnya dari dunia ini.
 “Bunuh…Bunuh aku..” Yanti berbisik perih. Sedangkan kekasihnya, Reyhan hanya bisa berteriak sambil menangis memohon. Kereta api sudah tak bisa dihentikan lagi. Tapi… Seseorang melompat dengan bertumpu pada pagar pembatas dan mendorong Yanti hingga menabrak pagar, jatuh dari atas rel.
 “JAAAAACCCKKK!!
 BRAK!
 Suara besi berhantaman dengan benda tumpul terdengar nyaring, bagai suara palu pengadilan bagi Claire. Darah bertebaran di mana-mana, potongan daging berceceran. Claire tercengang melihat kejadian tersebut, waktu seakan berputar seratus bahkan ribuan kali lebih cepat.
 “Tidak mungkin…Jack…” ia melihat beberapa helai rambut coklat beterbangan, diraihnya 1 helai. Merasakan kelembutan yang dulu menjadi miliknya, keceriaan yang dulu diklaimnya. Semua telah menyaksikan bagaimana Jack Heffley menyelamatkan hubungan Normayanti Afifah dengan kekasihnya.
 Sedangkan Yanti terduduk bersandar pada pagar pembatas di samping rel juga tempat Jack tertabrak, masih terilah jelas di ingatannya. Jack sempat meliriknya dengan pandangan ceria, lalu berpaling menatap Claire dan tersenyum setulus mungkin pada gadis itu. Pandangan Yanti mulai memudar, perlahan kesadarannya menghilang dan jatuh pingsan ke tanah.
 Sebuah kertas melayang dan jatuh di kaki Claire, ia memungut dan membacanya perlahan. Kertas itu mulai kotor dikotori air mata dari Claire dan darah Jack. Kereta api telah berlalu tanpa tanggung jawab, pagar pembatas dibuka. Reyhan segera menghampiri Yanti dan menggendongnya Bridal Style. Sedangkan Claire memandangi mayat yang sudah hancur lebur itu.
 “Jack… Jack Heffley..” Reyhan masih menunggu Claire.
 “Claire,” panggil Reyhan, Claire malah mengambil besi di dekat pagar pembatas.
 “Apa yang kau-“ Claire dengan cepat menusukkan besi itu ke dada kirinya, mengenai jantungnya. Dia memperdalam dengan menekan besi tersebut.
 Reyhan tercengang, Claire meraih tiga per empat tubuh Jack yang masih utuh. Ia mengaitkan tangannya dengan susah payah pada tangan Jack, Reyhan terdiam melihatnya. Namun, ia tahu satu hal. Tugasnya kali ini menjelaskan semuanya pada Yanti, ia berlari menuju rumah sakit.
XXXXXXXXXX
 3 tahun kemudian…
 Yanti menatap salju yang turun menghujam tanah, kedua tangan mungilnya menopang kepalanya. Reyhan melangkah ke arah kekasihnya, dia mengacak rambut Yanti.
 “Sedang apa, Yanti?” pemuda itu memeluk tubuh mungil Yanti dan memangkunya dari belakang.
 “Sedang memandang salju, Reyhan. Aku jadi teringat pada Jack,” Reyhan mengangguk, Yanti tertawa kecil.
 “Aku jadi ingin ke London lagi,”
 “Baiklah, bagaimana kalau besok lusa kita ke London? Sambil mengunjungi makam Jack dan Claire, mau?” Tanya Reyhan.
 “Ah! Iya! Ayo, Reyhan!” Yanti merespon perkataan Reyhan antusias.
 “Tapi kau harus melayaniku malam ini, Yan!”
 “Aa~ kalau itu… Aaah! Curang!”
 Mereka bersatu begitu hangat dan tentram. Saling melengkapi, baik fisik maupun mental. Yami dan Hikari, kegelapan dan cahaya, pria dan wanita.
 Yang sebenarnya terjadi…
Ayah Reyhan bekerja di perusahaan ayah Claire,
Claire menyukai Reyhan sejak pertama kali bertemu.
Karena mengetahui kalau Jack adalah teman Reyhan, ia
memanfaatkannya agar bisa dekat pada Reyhan.
Tapi, sejak mengetahui kalau Yanti adalah kekasih Reyhan.
Claire berusaha merebutnya dengan cara apa pun,
salah satunya dengan cara mengancam Reyhan bahwa ayahnya
akan dipecat kalau tak mau menjadi kekasihnya.
Sebagai anak yang berbakti pada orang tua, Reyhan terpaksa
menuruti keinginan Claire, walau ia
terpaksa harus meninggalkan kekasihnya, Yanti.
Sejak itulah Reyhan meninggalkan Yanti.
 Jack juga diancam oleh Claire, kalau sampai
Yanti mengetahui apa yang terjadi. Maka, adik perempuannya
yang menjadi taruhannya, juga Yanti sendiri.


TAMAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berdasarkan Kisah Nyata..

Salam Dalam Bahasa Jepang