Berdasarkan Kisah Nyata..

Mendung Di Senja Sore

Desember 2010. Langit cerah..

Dia berdiri dihadapanku, di tengah ruang BK yang dingin dan gelap. Seragam putih coklatnya tampak rapi membalut tubuh tegapnya. Sedikit bintik-bintik hitam bekas jerawat terlihat menyembul di atas pipi tirusnya. Manis, ku akui itu.

"Sedang apa kau disini, Kenta? Bukannya jam pelajaran belum berakhir?" Ucap guruku curiga.

Dia terdiam. Bingung sedikit terpampang di bola mata kecilnya.

"Cepat! Kembali ke kelas"

Aku tertawa kecil. Setelah dibentak, dia pun berlari ke kelas.

"Siapa dia, bu?" Tanyaku penasaran.

"Okizawa Kenta, dia sering sekali kesini. Sengaja meninggalkan pelajaran" Jelas beliau geram.

Aku bergidik. sepertinya dia dibenci sekali di sekolah ini. Aku sering mendengar namanya diperbincangkan, walaupun aku tak tahu pasti yang mana orangnya. Desas-desus gosipnya menyebar luas ke seantero sekolah. Padahal, ku pikir dia anak yang baik. Di kertas yang saat ini ku pegang, dia tertulis sebagai anggota organisasi Anti Narkoba yang ku ketuai.

"Memangnya dia ada masalah apa disini, bu?" Tanyaku pura-pura tak tahu.

"Banyak. Dia nge-Lem, kau tau 'kan?"

Aku mengangguk. Aku semakin penasaran dengan penjelasan beliau. lelaki itu sudah cukup menarik perhatianku.

***

Aku terkantuk-kantuk diatas meja kayu ruang kelasku. Pelajaran Bahasa Arab kali ini benar-benar membosankan. Setiap waktu penyetoran hapalan, kelas sepi seperti di hutan. Kalau tidak karena predikat "killer" yang menempel di jidat guru bahasa arabku, mustahil kelas akan sehening ini.

"Aghhh !! Anak-anak, kalian tahu 'kan pacaran berlebihan itu tak baik? Yah, seharusnya kalian tahu. Lihatlah perbuatan kakak kelas kalian kemarin!! Ciuman? Berani sekali berbuat seperti itu di lingkungan sekolah. Pergi kemana moral-moral kalian semua? Heh!"

Aku terkejut. Wajah guru killer di depanku nampak semakin menyeramkan. Sepertinya hari ini beliau akan melampiaskan amarah beliau sepuas-puasnya kepada kami. Seperti minggu kemarin.

"Memang, siapa yang berani seperti itu, bu. Kelas berapa?" Ucap Kazuki, teman sekelasku yang mempunyai Percaya Diri tingkat tinggi.

"Kelas VIII dan IX" Jawab beliau ketus.

Seketika kelas pun mafhum. Siapa lagi kalau bukan Kenta dan Yuki-chan yang seperti itu.

Aku benar-benar sedih mendengarnya.

Kringg.. Kringgg.. Kringgg.

"Baiklah anak-anak, sampai disini dulu pelajaran kita. Sampai jumpa minggu depan."

Aku bergegas membereskan buku-bukuku. Setelah mencium tangan guruku, aku pun langsung melompat keluar kelas. Takut kalau-kalau aku gagal lagi melihat Kenta hari ini.

"Momo, temani aku ke belakang dulu, yah" Pinta Mi-chan, sahabatku.

kami pun berjalan setengah berlari. sepertinya, Mi-chan benar-benar tak tahan.

Saat hampir tiba disana, aku berpapasan dengan Kenta. Wajahnya murung. Dia berlari kencang sekali. Aku kebingungan. Apa yang terjadi??

***

Juli 2011. Langit cerah..


Kenta dikeluarkan dari sekolah. Setelah kasus berciuman itu, aku tak pernah melihatnya lagi. Agak aneh jika tak melihatnya. Hampa. tapi itu tak berlangsung lama.

Kini, aku sedang menjalin hubungan dengan teman seangkatannya. Yamada Hachi. Dia tampan, pipinya chubbysekali. Dia mirip dengan penyanyi favoritku. Oleh sebab itu, aku tak pernah bosan memandangnya.

"Besok jadi gak Mo? Kursusnya?" Tanya Yukko.

Aku mengangguk. Setelah mendapatkan potongan harga untuk level pertama, aku pun bersedia mengikuti Kursus Bahasa Inggris di salah satu lembaga pendidikan swasta kota tempat tinggalku.

Selama dua minggu sekali, aku pergi ke tempat itu bersama empat orang temanku. Sampai akhirnya aku kembali bertemu dengan Kenta.

Aku tak menyangka dia juga kursus di tempat yang sama denganku. Yah, walaupun berbeda kelas.

Tapi, keberuntungan itu hanya sekali ku dapatkan. Setelah menyelesaikan level pertama, semua teman-temanku mengundurkan diri. Aku pun terpaksa dileburkan dengan kelas lain. Dan sejak itu, aku kembali tak bertemu dengan Kenta karena hari-hari kursusku sekarang berbeda dengannya.

***

"Momo, sehabis ujian di level ini, kau diberi kesempatan oleh direktur lembaga kursus kita untuk mengikuti kelas yang lebih tinggi (Advanced) tanpa tes apapun. Bahasa Inggrismu bagus. Akan tetapi, jika kau mengikuti kelas itu, kau tidak bisa menerima sertifikat Intermediate-mu. Karena, kau tau 'kan? Untuk mendapatkan sertifikat itu kau wajib menyelesaikan semua level hingga level lima." Ucap Miss Makiko, guru kursusku.

Mendengar tuturan beliau, aku pun kaget bercampur senang. Bukankah itu hebat? Dalam waktu dekat, aku tak 'kan pernah melihat nenek sihir itu lagi. Mari-chan, teman kursus yang satu kelas denganku.

Kalian tau, aku benar-benar membencinya. Mengapa tidak? Sepanjang kursus berlangsung, dia tak pernah berhenti bicara. Jika bahasa yang ia pakai adalah bahasa inggris, aku masih bisa menerimanya. Tapi ini? haha. Bahasa daerah tetap menjadi no.1 di kepalanya.

Setelah sampai di rumah, aku pun segera menemui ibu untuk memberitahukan Kelas baruku itu. Beliau setuju. Aku senang sekali. Terima kasih Tuhan !!!

***

Gugup telah menyelimuti sekujur badanku. Sepertinya, kelas baru yang akan ku ikuti benar-benar mengerikan. Miss Makiko mengatakan kepadaku bahwa kelas di level ini akan dilebur dengan kelas lain dengan alasan kesibukan beliau. Tak masalah. Setidakanya aku bisa lebih leluasa memilih kelas mana yang akan kuikuti.

"Okay Mo, come on. Follow me. This is your new class."Ucap beliau sambil membukakan pintu kelas.

Saat aku memijakkan kakiku disana, aku terkejut. Kenta persis berada tiga meter dari tempatku berdiri sekarang. Aku salah tingkah.

"Ayo Mo, silahkan ambil kursi kosongnya" Perintah Miss Makiko lembut.

Aku pun berjalan ke sudut ruangan.  Mengambil sebuah kursi lipat dan meletakannya di samping kenta.

Ini bukan tanpa alasan ku lakukan. Satu-satunya orang yang ku kenal di ruangan ini hanyalah Kenta.

Lalu, setelah berbincang-bincang, kami pun mulai akrab. Dia hebat. Seharusnya dia masih kelas IX sekarang. Tapi setelah mengikuti sekolah khusus, dia mampu melanjutkan pendidikannya ke sekolah kejuruan tanpa menunggu satu tahun lagi.

"Oh iya, di kelas ini kau wajib berbahasa inggris, Adik!!" Ucapnya lembut.

Aku tersenyum. Senang sekali bisa mengenalnya. Anggapan negatif sekolahku dulu telah luntur di mataku sekarang. Aku sudah tahu bahwa sebenarnya dia adalalah lelaki yang baik.

"Miss. aku pilih kelasnya kak Kenta saja, yah!" Pintaku penuh harap.

"Tapi, kelas Kenta sudah memasuki pertemuan ke-14. Hanya tinggal empat kali pertemuan lagi untuk menghadapi ujian kenaikan level selanjutnya. Apa kau sanggup mengejarnya?" Tanya Miss Makiko.

"Mo, ikut kelas kakak aja yah. Nanti kakak bantu kok sebisa kakak!" Tawar kenta antusias.

Aku tersenyum. Segera ku iya-kan pertanyaan Miss makiko tadi. Bagiku, semua tak 'kan jadi masalah asalkan ada orang yang ikhlas membantuku.

***

Hari-hari berikutnya ku lalui dengan sangat menyenangkan. Kenta sangat baik padaku. Bagiku, dia adalah kakak terbaik yang pernahku temui.

Sampai suatu hari, dia menembakku. Aku bingung. Aku masih belum bisa move on dari Yamada hachi, mantanku kesayanganku. Lagi pula, aku hanya bisa menganggapnya sebagai kakak "Terbaik" untuk saat ini. Aku bingung. Benar-binar bingung.

"Ya sudah, tak apa. Paling tidak jaga diri adik baik-baik yah. Jangan terlalu berlebihan kalau mau pacaran lagi nanti." ucapnya lirih.

Aku tahu. Masa lalu Kenta cukup buruk. Karenanya, dia sangat ingin menjagaku agar tak terjatuh seperti dia.

"Tapi, Kakak boleh 'kan "Melampah" adik?" Ucapnya, setelah penolakkanku yang kesekian kalinya.

Aku kembali bingung kali ini. Kata apalagi itu? Aku baru dengar.

"Masa adik gak tau sih? Artinya itu kakak pengen "Booking" adek buat jadi istri kakak nanti"

Aku terbelalak. Astaga. Tak salah dengar?

Setelah memandangnya sekilas, aku pun meng-iya-kan pertanyaannya tadi. Ku kira itu tak masalah. Dia lelaki yang baik, tak perlu di khawatirkan.

***

Juli 2012. Gerimis..

Aku sedikit tersentak hari ini. Kenta punya pacar. Mirip denganku, katanya. Namun, aku tak terlalu memusingkan itu.

"Ciyyeeee.. Selamat yah kak!!" Ucapku penuh senyum.

***

"Happy birthday, adik" Ucapnya riang.

Aku tersenyum. Setelah memberi selamat, ia pun memberikanku sebuah boneka kucing berbulu hitam-putih.

Kenta. Dia memang selalu tahu apa yang ku suka.

"Makasih banyak yah kak. Bonekanya lucu. Tau banget deh kakak sama hewan kesukaan aku" Ucapku senang.

Guru-guruku yang berada disana pun berdehem sambil sesekali tertawa kecil.

"Ciyeeee" ledek mereka.

Aku pun tertawa. Pipiku sudah pasti memerah sekarang. Tapi aku tak peduli. Seumur hidup, baru kali ini ada seorang anak lelaki yang memberikan kado boneka kepadaku.

"Eh, katanya Mr. Satou tak datang hari ini" Ujar Miss Makiko.

"Beneran, Miss? Kakak, jalan yuk! Kita kabur" Pintaku memelas.

"Tapi, kalau Mr. Satou datang tiba-tiba, Miss gak tanggung jawab " Ancam Miss Rie.

Aku tak peduli. Setelah ku rayu sedikit, Kenta pun mau menuruti kemauanku.

Kami pergi ke kuil Cinta. Tempat itu terkenal sekali bagi kalangan muda.

Tapi tidak denganku. walaupun kuil itu cukup dekat dengan tempat tinggalku, aku sama sekali tak pernah pergi kesana. Benar-benar menyedihkan.

"Adik, jangan ngebut. Banyak balap liar disini. Hati-hati." Teriak Kenta di sampingku.

Aku pun mengurangi kecepatanku. Lalu, kami berjalan berdampingan dengan sepeda motor kami masing-masing.

"Makasih yah kak, udah mau nemenin"

"Iya adik sayang!" Balasnya sambil mencubit hidungku.

Aku terkekeh. Sudah kesekian kalinya ia mencubit hidungku. Bernar-benar menyebalkan. Padahal, aku tak pernah bisa membalas cubit hidung kecilnya. Lincah sekali.

***

Mendung kembali menyelimuti wajah suramku. Karena Ujian Kelulusan semakin dekat, aku pun terpaksa berhenti mengikuti kursus.

Begitu juga dengan Kenta. Karena semua teman kursus kami juga berhenti dengan alasan yang sama sepertiku, Kenta ikut berhenti.

Kenta hanya satu-satunya anak kelas XI yang berada di kelas kursusku. Kalau pun dia ingin melanjutkan, dia harus mengikuti kelas Umum.

Dan lagi, aku harus berpisah dengannya..
Kenta..

***

"kakak, mau temani aku jalan, gak? Aku galau!" Ucapku lewat telepon genggam.

Aku terdiam di balik dinding kamarku. Hatiku remuk, sakit sekali. Jadi selingkuhan, ditinggalkan karena ada wanita yang lebih cantik dariku, benar-benar merupakan sejarah terburuk dalam hidupku. Lelaki kurang ajar. Aku benci. Benci.

"Ya sudah, kita makan es krim di depan taman kota saja, yah!" Balasnya.

Aku pun segera bangkit dari lantai kamarku. Memakai baju sekenanya dan pergi secepat-cepatnya.

Saat aku tiba disana, Kenta tak terlihat. Aku pun memesan es krim kesukaanku lebih dulu.

"Adik!!" Kejutnya sambil menepuk belakangku.

Aku tertawa. Lebih tepatnyaa tertawa yang dipaksakan.

Setelah suasana mulai mencair, aku pun menceritakan semua kegalauanku tiga hari ini. Saat panjang lebarnya bercerita, Telepon genggam kenta berdering. Namun segera dia tolak. Dia pun kembali menyuruhku bercerita, hingga untuk kesekian kalinya telepon Kenta kembali berdering.

"kakak, angkat dong. Masa pacarnya dibiarin gitu aja?" Tebakku

"hahahaha. Sudahlah, tak usah di pedulikan. Kakak sedang ada cek cok dengannya" Ucapnya ketus.

Aku diam. Sekilas, ku lihat amarah dari matanya. Hebat. Mengapa bisa kebetulan seperti ini?

"Adik, ayo curhat lagi." katanya membangunkan lamunanku.

Aku menggeleng. Sambil memainkan gelas es krim yang ku pegang, aku melemparkan pandanganku keluar. Es krim tak cukup untuk meredamkan amarah ku.

"kak, jalan yuk. Aku badmood banget!" Ucapku datar.

"Mau kemana? Kuil Cinta lagi?"

Aku mengangguk. Segera ku habiskan es krim yang kumainkan sejak tadi. Lalu, langsung saja aku pergi ke tempat parkir dengan tergesa.

"Adik. Kita kesana pakai motor kakak saja, yah! Motor adik diparkirkan aja di rumah kakak" Rayu kenta.

Aku tak bergeming. Sepertinya dia lupa kalau aku paling tidak suka nebeng dengan motor belalang. Kalian tahu? Jok motor belalang itu begitu menyiksa jika kau tak ingin terlalu berdempet dengan orang yang ada di depanmu.

"Nanti aja deh kak, udah sore nih. nanti telat lagi kalo bolak-balik ke rumah kakak" Ujarku beralasan.

Dia tersenyum. Setelah mendengar alasan mautku, ia langsung saja mendahuluiku. Menyebalkan.

*** 27 Oktober, 2013

Aku kembali bertemu dengan Kenta hari ini di Kuil Cinta. Setelah dua tahun lebih ia mengejarku, akhirnya aku mau membukakan sedikit hati untuknya.

Yah, sebenarnya, aku sudah mulai menyukainya ketika kami pergi makan es krim beberapa bulan yang lalu. Saat aku dan dia sedang mendapatkan masalah dari pasangan masing-masing.

Saat dia menepuk pundakku sore itu, aku tiba-tiba saja merasa lain. Entahlah. Apa karena dia yang terlalu baik padaku, sekedar menghibur, atau hanya aku yang terlalu merasa sensitif. Aku tak mengerti. Aku terus saja memikirkannya untuk beberapa hari.

Setelah bersiap-siap. Aku pun langsung pergi ke sekolah. Aku akan kencan dengannya setelah acara kemah ini selelsai.

Sebagai seorang jurnalis junior di sekolah baruku, aku tak dapat seenaknya meninggalkan tugas. Aku baru kelas X sekarang. Dan membuat masalah sama saja dengan menghancurkan imej jaim-mu.

Sekolahku cukup dekat dengan sekolah Kenta. Oleh karena itu, terkadang aku melihatnya saat pagi atau pulang sekolah. Tapi itupun jarang terjadi. Sebab, jalan untuk pulang ke rumah kami masing-masing bertolak belakang. Jika aku harus ke utara, maka ia akan pergi ke selatan.

"Sayang. Jemput sekarang yah!!" Ucapku lewat telepon.

"Iya, tunggu sebentar. Aku mandi dulu"

Hah? Yang benar saja. Dia belum mandi sejak pagi tadi?

"Sibuk, gak sempet. Tadi bangunnya telat juga. Udah sana. Tunggu aja"

Klik. Telpon dimatikan tanpa salam.

1 menit, 2 menit, 5 menit, 10 menit, dan setengah jam kemudian baru saja ia memunculkan batang hidungnya.

Aku pun segera menyalakan motorku untuk menemuinya di luar pagar sana.

Dan, astaga. Helm, motor, dan baju hem kotak-kotaknya berwarna merah? Ahh. Mataku tiba-tiba saja perih melihatnya.  Aku lupa memberitahukan dia bahwa aku sangat membenci warna merah.

"Kok lama banget sih? Dandan yah?" Candaku.

"Hahahaha. Maaf yah! Ya sudah, ayo ikuti aku sekarang! Nanti parkirkan saja motormu di rumah tanteku"

Aku mengangguk. Langsung saja ku nyalakan kembali mesin sepeda motorku dan pergi mengikutinya.

Sepanjang jalan dia ngebut cepat sekali. Aku tertinggal di belakang. Setelah beberapa lama, ia pun tersadar aku menghilang di belakangnya.

Benar-benar menyebalkan. Aku masih trauma dengan kecelakaan yang terjadi 6 bulan yang lalu. Tak mungkin aku berani kebut-kebutan di jalan.

Dia pun berhenti sejenak untuk menungguku. Sesaat sebelum melewatinya, aku mendelik benci. Seenaknya saja meninggalkanku. Dia kira aku ini siapa? Cuma teman cewek tak penting?

"Yap, sampai. Parkir disana saja. Aku mau ke dalam dulu sebentar" Ucapnya sambil memasuki rumah kecil di depanku.

Lima menit berlalu. Dia keluar dengan senyum khas-nya. Aku pun bergegas menaiki motor belalangnya.

"nah, jok-nya rata kan? Aku gak bohong kok. Dijamin deh, kejadian kayak motor temen adek gak bakalan kejadian disini" Ucapnya menyakinkan.

Aku tertawa. Ternyata, dia masih ingat saja keluhanku tentang motor belalang itu.

***

Praaakkkk..

Ku hempaskan telepon genggamku di atas kasur.  Benar-benar menyebalkan. Aku tahu, dia anak kelas XII, masih dalam masa magang dan pastinya sangat sibuk. Tapi, apa sulitnya mengirimkan satu pesan padaku walaupun hanya sekedar menanyakan kabar?

Kenta. Aku sedang sakit. Aku benar-benar butuh perhatian sekarang.

Ahh. Aku benci.

"Putus? ya ampun, adik. Please, bisa gak sih pengertian sedikit? Aku sibuk. kalau nanti aku punya waktu luang. Aku pasti menghubungimu" Ucapnya dengan nada suara tinggi.

Aku menangis. Entah sudah berapa kali aku menangis. Sampai kapan Kenta seperti ini? Malam minggu pun hanya ia habiskan untuk mencuci pakaian kotornya. Tidak ada waktu khusus untukku. Tak ada sama sekali.

"Huh, ya sudah kalu itu memang mau adik. Aku sama sekali tak berhak untuk memaksa." Ucapnya lirih.

Aku tersentak mendengarnya. Kenta. Aku mencintaimu. tapi kau tak pernah memberikan perhatian padaku sama sekali.

"Ya sudah! gak jadi. Tapi janji yah, kalau sibuk bilang! Jangan asal hilang gitu aja. Aku kan khawatir!"

Dia hanya meng-iya-kan. Hatiku perih mendengarnya. Rasanya ingin ku hancurkan saja telepon genggam yang ada di tanganku sekarang.

***

"Ayo Mi-chan! kita berangkat!" Kataku sedikit membentak.

"Memang kau tahu dimana rumah Kenta?" tanya Mi-chan ragu.

Aku menggeleng. Aku tak tahu persis di mana rumahnya. Hanya kompleks perumhannya saja yang ku tahu. Kompleks yang dulu sering ku lewati bersama ayahku sepulang memancing. Jauh sebelum mengenalnya.

"Mi-chan! Coba lihat! Itu mobilnya Kenta kan?" Teriakku girang.

Aku pun langsung membelokkan sepeda motorku ke rumahnya. Sayup-sayup, ku lihat seorang anak lelaki berpakaian putih sedang asik memperbaiki mobil sedan silvernya. Kenta.

"Ya ampun! ganteng banget sih! hahahaahha". Puji ku polos.

Dia merunduk dan berkata "Belum mandi kayak gini dibilang ganteng? Yang bener aja." Ucapnya ketus.

Aku kembali tertawa.

Dia semakin manis saat merengut seperti itu. rambut panjangnya menutupi sebagian telinganya. Alis hitam tebalnya terlukis indah di kulitnya yang puti bersih. AKu terpesona.

"Besok-besok, kalau ketemu kayak gini aja yah. Natural. Manis loh!" Ucapku.

Dia tak peduli. Selang beberapa detik, ia pun masuk ke dalam rumahnya tanpa salam apapun.

Menyebalkan. Dia kembali meninggalkanku.

***

27 November 2013..

Aku terdiam. Sebuah pesan masuk meledakkan jantungku. Seragam sekolah yang masih melekat di badanku basah. Airmataku mengalir dengan derasnya.

Kenta mengajakku mengakhiri hubungan ini. Tangisku semakin lama semakin deras. Ku lemparkan semua barang yang ada di sekitarku.

Aku menyesal. Aku marah. Mengapa di saat aku mulai mencintainya, dia malah meninggalkanku begitu saja. Mengapa dia tak mau meng-iya-kan saat aku mengajaknya putus dua minggu yang lalu?

Aku bodoh. Seharusnya, ku akhiri saja hubungan ini sejak dua minggu yang lalu.

Maaf sebelumnya. Kita putus saja yah. Kakak sibuk sekali sekarang. kakak takut jika nantinya tak bisa memperhatikanmu lagi. Kalau memang jodoh, kita pasti satu pelamian lagi.

Kenta

***

"Lupakan masa lalu, Mo. Lihatlah masa depan. Masih banyak yang lebih baik dibanding dia. Perjalanan hidupmu masih panjang Mo." Hibur kak Eguchi.

"Tapi kak. Aku masih gak rela ditinggalin gitu aja. Masa dia bilang "Kalu emang jodoh pasti satu pelaminan lagi" .?" Ucapku sambil merengek.

"Ya emang bener kan? Sudahlah Mo. Jangan galau terus. Nanti cepet tua loh. Hehe. Sabar yah, Nanti pasti akan datang yang lebih luar biasa. Tunggu yang pasti aja! Pasti nanti kamu bahagia!"

Aku terdiam. Ku lepaskan pandanganku ke langit senja sore ini.

Langit nampak mendung. Semendung hatiku sekarang..
Kenta..

Banjarbaru, 11 Maret 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salam Dalam Bahasa Jepang